Panitia Malam Hari Eps 2

Rembulan Tenggelam diwajahmu

Sabta menegakkan punggungnya setelah seharian ini ia berkutat dengan layar komputer yang menampilkan tulisannya. Laki-laki itu menyukai sastra, dan dia mendapatkan komisinya dengan membuat berbagai cerita yang ia posting diplatformnya. Ia membangun sebuah tim yang terdiri dari dirinya dengan Panca, satu-satunya orang paling dekat dengan kehidupan Sabta.

“Sab, event kepenulisan di kampus lu gua cancel aja nih?”

Panca muncul dari belakang, membawa dua gelas kopi dengan aroma kuat. Ia meletakkan gelas itu dihadapan Sabta, dan menyesap kopi miliknya sendiri di sofa yang tak jauh dari meja kerja Sabta. Beberapa saat Sabta masih menimbang-nimbang keputusan, ia sebenarnya tidak suka menghadiri acara yang mana memusatkan perhatian semua orang padanya. Tapi entah kenapa untuk kali ini Sabta merasa perlu dengan perhatian itu.

“Ambil aja, ntar kabari gua soal acaranya.”

Panca langsung terperangah luar biasa, ia tiba-tiba menghampiri Sabta dan menepuk keras pundaknya, bermaksud menyadarkan laki-laki itu. Sabta mengaduh dan menatap Panca dengan bibir mencebik, “sakit woy.”

“Lo yang sakit kali, serius lo sanggup ambil? Biasanya juga nolak.”

“Ngapain lo nanya kalo gitu.”

“Formalitas bro, sebagai bawahan ya gua harus nanya atasan dong.”

“Lebay, giliran makanan lo main comot aja sampe kosong kulkas gua. Ginian aja banyak bacot.”

Panca tersenyum lebar, memamerkan gigi rapih dan senyum sipitnya.

Ruang kerja Sabta dan Panca adalah bagian dari bangunan rumah orang tua angkat Sabta yang telah menjaganya dari beberapa tahun yang lalu. Kejadian yang merenggut orang tua Sabta dan Juni membuat keduanya diserahkan pada kerabat yang kini menjadi orang tua mereka. Namun baik Sabta maupun Juni diasuh oleh orang tua berbeda, membuat kembaran ini harus mengalami jalan hidup yang berbeda dan tidak tumbuh bersama-sama. Sabta bersyukur karena akhirnya penantian terjawab dengan pindahnya Juni ke tempat yang sama dengannya, mengikis sedikit jarak diantara mereka.

Sabta tahu jika dirinya memiliki banyak kesalahan hingga kehidupan keduanya harus terpisah. Pengalaman membuat Sabta belajar untuk berdamai dengan keadaan, namun seberapapun ia telah berdamai, ia belum memaapkan dirinya sendiri. Sabta dan segala rasa bersalahnya, adalah bagian dirinya yang tak boleh diketahui Juni.

Kejadian beberapa tahun silam tiba-tiba saja berputar dalam ingatan Sabta. Suara bising yang memenuhi telinga, klakson, teriakan, deru mobil, bau anyir, dan rembulan yang menemaninya memenuhi pikiran Sabta. Sabta mengingatnya dengan jelas, ketika untuk terakhir kali sebelum kejadian tak terduga itu merenggut ketenangan, ibunya dengan mata sendu mengucapkan kalimat yang terdengar seperti mantra baginya.

Ibunya tersenyum lembut seraya berkata. “Sabta, rembulan tenggelam diwajahmu.”

Laki-laki itu merasakan jalur pernasapannya terhambat tiba-tiba, ia merasakan tubuhnya gemetar hebat dengan keringat yang membanjir. Panca panik dengan kekosongan yang tersirat dari mata Sabta, ia langsung mencoba menggoyangkan tubuh Sabta berusaha mengembalikan kesadarannya, namun nihil.

Sabta semakin tersengal-sengal, rasa mual, pusing, serta detak jantungnya yang berdegup keras menyakitkan menyeruak. Wajahnya menahan rasa ingin muntah. Tangannya menggapai Panca yang ikut panik, “Sab! Tenang, Sab!” seru Panca.

“O-bat,…” suara Sabta tercekik, laki-laki itu mencoba menarik laci dibawah mejanya. Dengan sigap Panca memahami bahasa tubuh Sabta, lalu ia mengambil satu-satunya botol obat yang ada didalamnya. Panca sedikit berlari mengambil air kemasan disisi sofa, lalu membuka segelnya dengan tergesa hingga membuat air yang telah terbuka itu sedikit tumpah.

Sabta mulai tenang setelah menelan obatnya. Tubuhnya yang kaku meluruh dikursi kerjanya. Nafasnya yang tercekat kini terasa lebih tenang. Panca masih menetralkan degup jantung karena menghadapi Sabta yang tiba-tiba bereaksi seperti dulu. Ia sudah mengenal Sabta sejak lama, dan kebiasaan meminum obat itu sudah berhenti sejak tahun lalu, cukup lama. Keadaan Sabta saat ini menimbulkan kekhawatiran baginya.

Ya, Sabta sudah sangat lama mengonsumsi obat penenang karena dirinya dulu sering terkena serangan panik. Bertahun-tahun lamanya, Sabta akhirnya lepas dari konsumsi obat penenang setelah Juni kembali berada didekatnya. Untuk waktu yang cukup lama, Panca awalnya berpikir jika Sabta sudah sembuh. Namun ternyata ia salah menduga.

“Udah tenangan, Sab?”

“Udah, thanks bro.”

Panca merasa ragu untuk mengeluarkan apa yang ada dalam benaknya.

“Lo yakin soal event itu Sab?”

Wajah Sabta kembali seperti biasa, ia menatap Panca dengan senyum sinis, “jangan anggap gua kayak makhluk lemah, Pan.”

Panca menggaruk kepalanya bingung. Namun ia tidak mau mengkonfrontasi Sabta, apalagi dengan kejadian yang baru saja terjadi. Laki-laki itu melemparkan tubuhnya kearah sofa empuk, mendadak pusing hanya karena Sabta. Lo emang hebat karena bisa bersikap sok kuat disaat lo sendiri rapuh Sab, tapi lo lupa kalo kejadian tadi datang tanpa permisi dan itulah kelemahan lo. Gua ga ngerti sama lo.

*

Acara kepenulisan yang telah disetujui Sabta diadakan pada pekan selanjutnya setelah kejadian serangan panik itu terjadi. Panca masih was-was jika serangan itu muncul ketika mereka berada ditengah mengisi acara. Namun selalu dengan santai Sabta meyakinkan jika dirinya lebih dari mampu untuk tidak mengalami serangan itu kembali.

Sabta memiliki alasan kuat untuk tetap mengikuti acara yang pertama kalinya disetujui olehnya. Ia tidak mengatakan alasan itu pada Panca, karena beberapa alasan memang tidak perlu diketahui orang lain selain dirinya. Sabta selalu nyaman berada dibalik bayang-bayang nama penanya, tetapi ternyata memang ada saatnya ia keluar dari zona nyaman untuk melakukan misi yang ia buat sendiri. Misi yang entah kenapa muncul ketika satu minggu ia tidak bertemu lagi dengan Juni setelah interaksi terakhirnya dibalkon malam itu.

Ya, alasan yang mendasar karena Juni. Kembarannya adalah alasan utama Sabta ingin memperlihatkan dirinya pada publik.

Sabta  selalu sibuk dibalik layar komputer, menuliskan beribu kata yang ia rangkai menjadi sebuah cerita dari berbagai konsep pemikirannya. Menulis menjadi hal paling menyenangkan yang Sabta temui setelah sekian lama ia mencari mediasi untuk jiwa kesepiannya. Kehadiran Juni menambah tempat mediasinya, meskipun Sabta sendiri tidak pernah mengatakannya secara langsung pada Juni. Hanya memandang Juni, Sabta merasa ia masih pantas hidup.

“Jun, seminggu ini kamu tidak pulang?” Sabta menulis pesan singkat, berharap pesannya segera dibaca dan dibalas Juni.

“Aku dirumah.”

Singkat, padat, dan jelas. Sabta sadar betul jika Juni masih marah padanya, kembarannya itu selalu menggemaskan jika sedang marah. Ia tidak pernah merasa kesal jika Juni bersikap dingin. Sepantasnya begini.

“Aku kangen, kamu ngga gitu?”

“Ga.” Sabta terbahak, ia langsung menelepon Juni.

Beberapa saat terdengar nada sambungan, tapi Juni tidak mengangkatnya langsung. Perempuan itu memilih untuk mendiamkan Sabta, sepertinya ia masih marah. Namun Sabta selalu gigih jika menyangkut Juni, ia tidak akan menyerah hanya karena teleponnya tidak diangkat. Laki-laki itu menyadari jika satu-satunya cara adalah dengan menemui langsung perempuan itu. Toh ia adalah kembarannya Juni, jadi tidak apa jika ia lancang datang ke rumah orang tua Juni bahkan tanpa permisi.

Sabta memakai sendal, bergegas menuju rumah Juni yang tak jauh dari rumahnya. Meskipun balkon rumah Sabta dan Juni terlihat berdekatan, namun bangunan rumah keduanya terhalang satu rumah tetangga. Ketika Sabta ingin menemui Juni, ia harus melewati beberapa rumah dengan jalan memutar dari rumahnya.

Ia mengetuk pintu rumah yang setengah terbuka, namun tidak ada tanda-tanda orang yang akan menyambutnya. Pada malam seperti ini, sangat tidak wajar pintu rumah terbuka tanpa pengawasan. Sabta nekat memasuki ruangan tamu yang terlihat sepi. Sebenarnya Sabta sering mengunjungi rumah Juni sejak perempuan itu pindah. Namun, entah kenapa rumah itu selalu menyingkirkan Juni setiap kali ia berkunjung, seolah kehadiran Sabta tidak direstui. Beberapa kali ia memang bertemu Juni yang ada di rumah ketika itu, tetapi lebih banyak Sabta harus menelan kecewa setiap kali Juni tidak berada di dalamnya. Jadi, Sabta memutuskan untuk menjadikan balkon rumah mereka sebagai alternatif tempat bertemu mereka.

Hening sekali rumah Juni. Entah dimana keberadaan kedua orang tuanya, yang pasti Sabta merasa jika rumah itu lebih dingin dari terakhir kali ia mengunjungi Juni secara langsung. Seperti terkurung dalam ruangan yang tidak akan pernah hangat lagi, bahkan jika ruangan itu ramai orang.

“Jun?” sabta berusaha memanggil Juni, namun ia tidak mendengar balasan.

“Juni, ini aku Sabta.”

“Jangan main-main, kamu dimana?”

“Juni!”

Sabta merasa cemas, kepalanya tiba-tiba dibayangi dengan kemungkinan-kemungkinan buruk. Juni tidak menjawab meskipun Sabta sudah dirumahnya. Tidak, tidak mungkin. Sabta menggelengkan kepalanya dari pikiran buruk, nafasnya kembali tersengal, namun ia mencoba untuk tetap tenang. Laki-laki itu semakin memasuki bagian dalam rumah, ia menuju kamar Juni yang berada dibagian dalam setelah ruang tamu dan ruang tengah. Sabta melihat pintu kamar Juni terbuka, ia melangkah lebar-lebar dengan tak sabar.

“Jun…”

Juni yang membelakangi pintu menoleh, entah apa yang dilakukannya hingga kedatangan Sabta tidak ia sadari. Sabta merasa bebannya diangkat seketika setelah melihat kondisi Juni yang ternyata baik-baik saja. Ia bernapas lega.

“Kamu kok disini?”

“Soalnya kamu marah, hampir aja aku takut kamu hilang.”

“Biarin. Suruh siapa kamu ga nanyain kabar aku dari minggu lalu.” Juni memalingkan wajahnya dari Sabta.

Sabta digerayangi rasa bersalah, ia bukan tidak mau menghubungi Juni. Namun karena ia sibuk dengan tulisannya, laki-laki itu memilih mengurung diri diruang kerja, untuk beberapa alasan. Barulah ketika Panca mengunjunginya terakhir kali, Sabta selesai dengan segala urusannya dan bisa kembali fokus pada Juni. Meskipun itu berarti memantau jarak jauh.

“Maap.”

Juni masih mendiamkan Sabta, ia beraktivitas seolah Sabta tidak ada bersamanya saat ini. Sabta tahu jika Juni hanya mencoba mencari pengalihan, tidak membiarkan ruang diantara mereka berdua untuk saling berbincang seperti biasa.

“Jun, ke balkon yuk.” Juni bergeming, duduk ditepi ranjang sambil mengotak-atik ponselnya. Sepertinya setelah beberapa waktu ia dengan sengaja memalingkan muka dan perhatiannya. Juni bingung harus melakukan apa, dengan Sabta yang masih setia disana, tanpa berkata ataupun menghalanginya.

Sabta menarik tangan Juni, seolah-olah ia berkuasa di rumah itu, Sabta mengarahkan kaki mereka menaiki tangga untuk kemudian sampai di balkon. Juni tidak menolak, mungkin terlalu lelah mencari penyangkalan, mungkin juga ia merasa keterlaluan sudah mendiamkan Sabta. Terkadang untuk beberapa hal, Sabta merasa mengerti Juni tanpa harus mendengar suaranya ataupun mendengar jawaban pertanyaannya.

Angin malam yang berhembus dingin menyambut mereka. Juni bergidik dingin, ia tidak bersiap untuk keluar pada saat Sabta menariknya ke arah balkon. Pakaiannya saat ini hanya sepasang piyama berlengan pendek dengan motif bergambar pisang. Sama sekali tidak melindunginya dari hawa dingin menusuk malam ini. Sabta tersenyum, ia melepaskan sweaternya tiba-tiba, menyisakan kaos tipis yang tentu saja sama seperti piyama milik Juni yang tidak mampu melindunginya dari cuaca saat ini.

“Sab! Sweaternya dipake, dingin, jangan aneh-aneh deh.”

Sabta tersenyum lebar mendengar Juni berprotes. Namun alih-alih memakai sweaternya kembali, Sabta malah menyodorkannya pada Juni. Perempuan itu mengerutkan alis, lalu memahami maksud Sabta melepas bajunya sendiri. “Ga mau,” tolaknya.

Sabta berdecak, “pake, aku kedinginan.”

“Ya kalo kedinginan, terus kenapa dilepas? Kamu ini bisa ga sih sehari aja ga aneh?”

“Kamu bisa ga sehari ga ngelak perhatianku?”

“Emang sejak kapan kamu perhatian? Sejak kapan, huh?”

Sabta terdiam.

“Kalo kamu emang perhatian, terus kamu tahu apa soal hidupku? Kamu tahu tidak apa yang ku lalui selama ini? Kamu tahu apa, coba bilang, biar aku tahu kalo kamu perhatian.” Juni terus mencerocos, seolah gelas kesabarannya sudah penuh dan tak mampu lagi membendung isi hatinya.

“Aku ga ngerti, Sab. Kita ini kembaran, keluarga, tapi kita ga pernah jadi keluarga lagi. Kita cuma dua orang yang punya keluarga masing-masing, sedangkan kita sendiri saudara kandung yang ga punya hak itu bahkan diatas kertas. Perhatian itu ga berguna, karena kita tetep aja ga bisa sama-sama!”

Juni histeris, diluar dugaan Sabta. Perempuan itu terduduk, lalu memeluk kedua lututnya sambil menenggelamkan wajahnya. Sabta kehilangan kata-kata, dari awal ia tahu diri jika dia menyimpan rasa bersalah pada Juni. Tapi secara langsung dihujami dengan kenyataan oleh Juni, membuat Sabta berkali-kali lipat tak mampu membendungnya. Alhasil, ia hanya berdiri termenung, menatap Juni kosong.

Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka bertengkar. Baik Sabta maupun Juni tak mampu berkata-kata lagi. Tidak ada argument yang perlu untuk membela dirinya sendiri bagi Sabta. Ia cukup tahu diri, meredam kenyataan masa lalu yang ternyata menjadi senjata bagi keduanya. Juni masih terisak meski kini dengan suara pelan. Sabta setia, menatap rembulan diatas mereka yang malam ini lebih terang dari biasanya.

“Kamu bener, aku emang ga perhatian. Maap karena terlalu sibuk sampai melupakan kita semua, Jun.”

Juni masih tidak mampu mengatakan apapun.

“Aku pengen kamu lihat, saat ini rembulan sedang berbinar-binar. Sangat indah.”

“Disaat seperti ini, kamu masih aja ngebahas itu.” Tanpa disangka suara serak Juni membalasnya. Sabta tertawa kecil. Juni benar-benar membenci segala hal tentang malam, bahkan disaat emosinya naik keubun-ubun, ia masih menyuarakan ketidaksukaannya, seperti saat ini.

“Kamu mau tahu salah satu alasan aku suka segala hal tentang malam, Jun?”

Juni merasa tidak perlu menjawab itu, ia masih kesal dengan Sabta dan status mereka saat ini.

“Aku rasa kamu perlu tahu, karena alasannya adalah ibu.”

Juni menoleh seketika pada Sabta, dengan mata sembab yang kini kembali berkaca-kaca. Sabta hanya melirik sekilas. Ternyata setelah sekian lama ia melihat Juni selalu menangis dan mengadu padanya, ia benar-benar tidak mampu melihat kembarannya rapuh dengan air mata itu. Sabta menyadari jika air mata Juni senjata untuk menusuk jantungnya hingga menimbulkan nyeri. Senjata yang mungkin tidak disadari oleh Juni sendiri.

Suara bergetar Juni terdengar pelan, “maksud kamu apa?”

“Ibu pernah berkata jika rembulan tenggelam diwajahku. Saat itu aku menyadari jika malam adalah hal yang ibu sukai.”

Dengan bibir bergetar Sabta melanjutkan kalimatnya, “tepat setelah kecelakaan itu terjadi, rembulan benar-benar tenggelam diwajahku. Membawa orang tua kita pergi untuk selamanya. Itulah arti pesan yang ibu coba sampaikan padaku, jika rembulan itu adalah hiburan terakhir baginya.”

Juni kembali terisak, lebih menyakitkan. Sabta yang sejak tadi hanya diam kini memilih untuk memeluk Juni. Ia paham jika sebenarnya, dirinya pun tidak kuat dengan kenyataan itu. Mereka berpelukan dengan erat menumpahkan tangis bersama. Pesan terakhir yang baru diketahui Juni benar-benar memukulnya kembali dengan kenangan masa lalu. Menampilkan luka keduanya yang ternyata belum kering sama sekali.

Kematian adalah perpisahan pasti. Mungkin disertai kehilangan dan juga kesedihan. Tapi manusia yang sudah mati beruntung, karena meskipun pada akhirnya kematianlah yang memutuskannya dengan dunia, ia tetap abadi dalam kenangan. Hanya tinggal manusia yang hidup untuk melanjutkan hidup, pelan-pelan menelan sepi menjadi wajar, membiarkan sedih menjadi belajar, hingga semua itu cuma jadi ingatan yang nantinya cukup dikenang tanpa ada lagi genangan.

Panitia Malam Hari Eps 1

Oleh Sedunian

Langit Malam

Sabta masih setia, bukan untuk mencintai satu wanita yang dicintai, ia setia menunggu kesedihan sirna dari wajah Juni. Perempuan tercintanya, saudara kembarnya.

“Udah puas nangisnya, Juni?”

Juni masih sesenggukan, memberanikan diri menatap Sabta walau dari kejauhan, disebrang balkon rumahnya yang berhadap-hadapan dengan rumah Sabta. Ia malah kembali terisak, semakin kencang, air mata Juni seperti tak pernah surut untuk keluar, selalu deras hingga membuat matanya membengkak. Sabta selalu kebingungan untuk menghentikan tangisan Juni, ia tidak banyak membantu selain menunggu hujan emosi itu berhenti.

“Yaudah, aku matiin dulu teleponnya ya.” Sabta pamit, merasa tak enak jika hanya berdiam dan melihat Juni terus menangis.

“Jangan…hiks. Temenin dulu,”

Sabta tak berucap apapun, ia hanya mengangguk samar, tak menghiraukan lawan bicaranya akan melihat anggukannya atau tidak. Ia membiarkan Juni memilikinya malam ini, untuk menemani tangisnya yang tak pernah absen disetiap malamnya.

Keheningan terbentang setelah itu, menciptakan jeda yang cukup untuk Juni memulihkan dirinya.

“Jun.., Juni.”

“Apa?”

“Kamu sadar ‘kan langit malam ini?”

Juni lantas mendongak untuk memastikan, langit malam masih seperti biasa, gelap, pekat, dan menakutkan untuknya. Perempuan itu menghela nafas pendek, isaknya sudah hilang, dengan sisa tangisan yang membekas dimatanya.

“Gelap Sab, gak ada indahnya.”

“Juni, yang kamu sorot Cuma gelapnya, kamu gak lihat kalo bulan dan pasukannya itu indah karena langitnya gelap, bukan karena langitnya cerah.”

Juni terdiam mencerna, lalu kembali memerhatikan langit malam yang selalu dipuja-puja oleh Sabta. Kembarannya itu adalah segala hal yang tak tercermin dalam dirinya. Sabta menyukai langit malam, Juni menyukai langit pagi hari. Sabta suka makan tomat mentah, Juni tidak. Sabta tidak suka naik motor, Juni sangat suka naik motor. Sabta suka sastra, tapi Juni menyerah membaca setelah beberapa kata. Mereka adalah kembaran yang mungkin terlalu berbeda dengan kembaran pada umumnya. Mungkin hanya satu yang membuat mereka tetap sama dan membuat orang lain percaya jika mereka kembar, wajah yang sama.

Kembali, hening membentang menemani jangkrik malam dan angin. Telepon masih tersambung, baik Sabta ataupun Juni sama-sama tidak ingin mengakhiri bincang malam itu. Kenyataan bahwa rumah tempat pulang mereka berbeda, membuat keduanya sulit untuk saling mengisi waktu. Maka disaat-saat malam seperti inilah, Sabta selalu bisa untuk setidaknya menanyakan kabar hari ini. Meskipun ia tahu jika Juni tidak suka berada diluar pada malam hari yang sangat tidak disukainya.

“Apaan sih Sab.” Juni tiba-tiba berseru. Sabta baru menyadari Juni tidak berada ditempatnya duduk tadi, laki-laki itu terlalu sibuk menikmati waktunya bersama langit malam. Apa mungkin Juni cemburu?

“Kamu kemana? Tadi katanya minta ditemenin.”

Hening, Sabta tidak menemukan Juni dibalkonnya. Ia juga tidak mendengarkan respon apapun dari sebrang telepon meskipun masih tersambung. Jadi benar ya, Juni pasti cemburu karena aku lebih memuji Bulan daripadanya. Juni, kamu akan selalu jadi yang nomor satu bagiku. Sabta tersenyum, tidak merasa tersinggung, ia malah merasa bersalah. Namun tidak dipungkiri, sikap Juni padanya memberikan kesempatan lain baginya untuk menebus waktu yang hilang dari kehidupan mereka berdua. Sabta masih teringat akan hal itu, jadi untuk menebusnya, ia tidak akan pernah bisa untuk marah pada Juni. Seperti saat ini.

“Aku gak bakal maksa kamu buat menerima apa yang kusukai, Jun. Jadi kamu bisa tidur tenang malam ini. Jangan lupa kamu belum sembahyang dan jangan lupakan penjelasan atas tangismu tadi. Aku tutup ya, Assalamu’alaikum.” Sabta mengakhiri telepon begitupun acaranya untuk menikmati langit malam ini.

Juni masih bersembunyi dibalik pintu, ia tidak benar-benar meninggalkan perbincangan emasnya dengan Sabta. Tapi setiap kali ia mendengar Sabta yang begitu lembut membicarakan langit malam dengan bahasa sastranya itu, Juni selalu ingin lari dan menulikan telinganya. Gadis itu mengintip sedikit dari celah pintu yang tak sepenuhnya tertutup, memastikan Sabta benar-benar pergi. Juni kemudian mengambil langkah lebar keluar dari persembunyiannya, dan seperti seorang perempuan paruh baya yang mengamuk, ia berkacak pinggang dengan kepala terdongak.

“Dengar ya langit malam, bulan dan pasukan-pasukanmu itu. Aku tidak suka dengan kalian! Jangan pernah rebut Sabta dariku. Apalagi melenyapkannya dari muka bumi seperti yang kalian lakukan dulu!” desisnya dengan wajah memerah menahan tangis.

Ya, Juni membenci malam bukan tanpa alasan. Ia hanya tak pernah menyuarakannya pada Sabta, lebih tepatnya tak mampu untuk mengungkapkan hal menyakitkan yang sudah terkubur untuk dibiarkan mati dalam ingatan. Gadis itu benar-benar marah, pada malam, bukan pada makhluk fana yang rakus seperti manusia. Hanya Juni yang membenci malam dan pasukan-pasukannya, ketika orang lain menanti malam sebagai waktu istirahat dari segala penat.

Sabta, mungkin aku akan menjadi pembenci malam, selamanya. Tapi aku tak tahu jika rahasia itu terungkap, akan seperti apa reaksimu nanti. Aku tidak ingin kehilangan lagi, Sab. Kepergian ayah dan ibu cukup untuk meruntuhkan harapanku dan cukup menjadi alasan aku membenci malam. Jangan sampai dirimu ikut lenyap, aku tidak akan kuat jika harus ditinggalkan lagi. Jika memang semesta ingin bercanda, silakan, tapi jika semesta bercanda dengan menghilangkan orang-orang yang ku sayang, aku tidak rela dibercandai. Sab, ada beberapa hal yang mungkin terlewat dari ingatanmu, yang kini ku kubur dalam-dalam. Aku takut, aku takut jika kenyataan ini membunuhmu. Jadi, jangan paksa aku untuk mencintai malam seperti dulu.

Sepatah-dua dari Penulis

Assalamu’alaikum, Selamat Datang.

Perkenalan adalah salah satu tahap untuk lebih tahu soal objek yang akan diamati, ceilah. Disini peranku gak lebih dari seorang amatir yang sedang mencari rumah baru untuk tokoh-tokohnya.

Ya, platform ini ku buat tanpa pertimbangan banyak hal dan dibuat beberapa jam menjelang tidur. Jadi siap-siap saja mengunjungi blog ini dengan sistem yang masih acak adut haha.

Pokoknya ku haturkan Terima Kasih karena masih sudi untuk setidaknya mengunjungi website ini dan meluangkan waktu untuk membaca postingannya. Semoga suka, salam kenal dari Sedunian ❤

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai